Wednesday, June 9, 2010

memoar juni yang kepagian

Tentang sebelum juni
Tak semua orang suka hujan bulan juni..
Dan,
Tolong jangan kau tuduh aku tak suka hujan bulan juni,
Aku suka hujan
Tapi tidak di bulan juni..
Aku ingat bagaimana biasanya juni menghujaniku dengan air, air dari mata malam. Musim semiku kali ini berakhir dengan manis, sampai juni menghujaniku.. dengan kepergianmu.
Benar benar berakhir dengan manis, karena masih sempat kusisipkan rinduku.
Setelah berpuluh purnama kita lewati,
Aku tak mampu melewatimu, hujan bulan juni..

Tentang juni ini
Masih saja aku salah membaca tanda. Membaca rasa.
Semiotik senyummu selalu menjadi monalisa, dan tentu saja kau tak rasa.
Lalu kau benturkan aku pada.. uhm.. pada.. pada apapun aku tak tahu bagaimana menyebutnya, ketika kamu, kamu yang menanyakan itu. Aku yang hidup bagai serigala, tak pernah bisa berdusta, menghadapi engkau, wanita yang bermata bagai mata air. Absurd mungkin, tapi selalu menjadi mimpi, setidaknya untuk membohongi realitas hidup.
Kamu, yang menunggu pangeran berkuda putih menjemputmu, tentu tak tahu.
sudah lebih 7 tahun aku mencoba menjadi pangeran itu, namun kuda putih itu tak pernah datang..

Tentang harapan juni
Masih tentang bunda tercinta dan istana kecil kami di mijen.
Maaf, masih belum bisa membawakan bunda, putri kecil seperti yang diminta.
Setidaknya selalu ada doa untukmu dan suamimu
Sebagai penghias uban yang mulai menjajah hitam rambutmu
Putramu suatu hari akan kembali,
Menyunting mimpi yang belum sempat terbeli.
Hanya doakan suatu hari nanti, bisa bawakan engkau bungah hati dan seorang putri.

Tentang umur yang tak kembali
Sewindu setelah aku memutuskan pergi dari kota itu, akhirnya aku temukan muara.
Semoga semua senja yang coba kucuri merahnya, membuatku semakin dekat padaMU
Tolong, Engkau koreksi jalan yang akan kuambil dipeta hidupku.
Sungguh aku tak pernah ingin tersesat jauh dari jalanMU,
Engkau tahu aku merindukanMU bukan?
Lalu untuk semua peran yang pernah singgah, terima kasih telah mewarnai panjang jalanku
Dan beberapa nama yang menyertai,
Yang membuatku berlari
Ataupun yang memaksaku menepi
Terima kasih,
Smoga menjadi cerita yang indah kelak
Untuk teman minum teh di sore hari
Bersama anak cucu di hati..

-memoarpriayanglahirdibulanjuni-