Sunday, April 4, 2010

khusnuddzan

Karut marutnya permasalahan bangsa ini bukan merupakan sebuah akibat dari kurangnya pendidikan moral, etika maupun religi. Tidak kurang hampir minimal selama 12 tahun sejak dari pendidikan dasar kita sudah dicekoki dengan berbagai macam pelajaran yang memuat ilmu tentang kaidah hidup tersebut. Tak akan pernah kita sangkal ketika SD minimal kita akrab dengan pendidikan agama, juga PMP dua buah pelajaran yang mengasah sikap dan religiusitas kita dimasa yang akan datang.

Pendidikan agama yang ditanamkan sejak kecil akan membentuk pribadi yang religius, sekurang-kurangnya dari sekolah meski dalam kehidupan sehari hari campur tangan keluarga dan masyarakat dalam hal ini tentu saja berdampak cukup signifikan. Keluarga dan masyarakat adalah penentu kepribadian utama dalam kehidupan dewasa kelak. Sejak kecil kita telah diajari cara beribadah, mulai cara bersembahyang, beramal, melaksanakan kewajiban menjauhi larangan. Kita juga diceritakan kisah-kisah teladan, diajarkan bagaimana bersikap yang baik, mana yang benar mana yang salah, mana yang boleh mana yang tidak, mana yang baik mana yang buruk.

Di sekolah kita juga diajarkan pelajaran pendidikan moral pancasila. PMP ini adalah sebuah pelajaran falsafah hidup yang menurut saya paling ideal, karena apa, Pancasila sebagai falsafah moral bangsa merupakan penggabungan unsur religiusitas dan ideologi tengah. Tidak liberaris juga bukan sosialis apalagi komunis. Kita selalu mengambil jalan tengah. Jalan yang kita anggap terbaik, tidak memihak, yang disesuaikan dengan kultur kehidupan masyarakat Indonesia juga yang religius, gotong royong, tepo seliro, tidak neko-neko dll. Jadi ketika kita menemui kasus gayus tambunan, arthalita, ato yang lebih dulu kita kenal ada eddy tansil dll apakah kita mempunyai root kultur korupsi seperti itu?

Saya kok tidak pernah dengar yang namanya patih gajahmada korupsi, ataupun prabu hayamwuruk lengser karena kasus korupsi. Juga tak pernah saya tahu kalau Mulawarman maupun Purnawarman menerima suap. Pun tak ada cerita tentang tertangkapnya seorang koruptor dijaman Sriwijaya. Yang kita tahu ada seorang ratu (ratu Sima kalau tak salah) yang demikian adilnya sampai pundi emas yang diletakkan dijalanan saja tak ada yang berani mengambil. Juga pasti kita paham benar apa itu amukti palapa. Seorang pejabat yang karena tugas dan kewajibannya sampai berani meninggalkan/ menolak mewahnya dunia sebelum cita-cita kerajaan (tugasnya tercapai).

Kultur korupsi bukan budaya bangsa kita. Kultur korup kalau boleh saya bilang adalah kultur kolonialisme. Penjajahan atas bumi Indonesia, atas harga diri dan juga atas budaya luhur nusantara. Dimana kaum kapitalis memaksakan kehendaknya, untuk kepentingan materi mereka, sudah mengeruk kekayaan alam kita, mencekoki dengan budaya kolonial yang berujung pada pemenuhan kebutuhan material. Yang namanya raja atau pejabat pemerintahan harus menyerahkan upeti sebanyak-banyaknya agar dianggap berkinerja bagus, loyal, makmur. Perdagangan dimonopoli, hasil jerih payah rakyat kita dirampas atau lebih halusnya dibeli tapi dengan harga yang sangat murah, lalu dijual penjajah keluar dengan harga mahal. Banyak lagi contoh kebiadaban penjajah, yang tak akan habis kita kupas sampai sekarang.

Lalu apakah yang membuat akhir-akhir ini marak kasus korupsi di negeri tercinta ini? (ini sih bukan marak nank, korupnya ma dari dulu tapi ketahuannya sekarang2 ini karena lagi apes ajah hehehe) Saya yakin koruptor itu orang yang susah sekaligus juga mereka orang yang pintar. Karena apa? sebagaimana saya sebutkan diatas sejak dini kita memperoleh pengetahuan tentang moral dan agama jadi saya yakin benar para koruptor ini orang yang susah sejak kecil. Susah mencerna pelajaran moral dan agama, atau susah mempraktekkannya dalam kehidupan. Yang namanya hidup sederhana itu biasa di Indonesia, itu kultur masyarakat kita. Tapi karena pelabelan miskin, karena kultur kolonialis (barat) tentang materi, maka sekarang jarang ada orang yang bisa hidup sederhana. Pejabat kok sederhana ntar dikira miskin lagi.. :p

Lalu mereka pasti pintar, karena apa. Lha wong kita sejak dari kecil diajarkan pendidikan agama dan moral, bukan pelajaran korupsi, maka ketika dewasa dia korupsi saya mbok yakin mereka itu belajar otodidak. Susah loh untuk korupsi dan suap menyuap itu, sekarang baru nyari peluangnya, timingnya, mikirin caranya, lalu cara nyembunyiinnya gimana, belum kalo ketahuan nyiapin alasannya. Mana ada pelajaran dasar-dasar korupsi, Korupsi 1, Korupsi 2, atau praktek kerja korupsi. Tidak ada! Mereka itu pasti susah korupsi dinegara kita, orang masyarakat kita sejak kecil dicekoki dengan pelajaran moral dan agama.! wkwkkwk

Mereka pasti pintar bersandiwara, lihat saja anggota DPR yang sekarang kesangkut kasus suap pemilihan DGS BI, ada aja alasannya, ada yang bilang itu dana kampanye partai, ada yang bilang itu tunjangan akhir jabatan, ada yang bilang dana apa tidak tahu. Tapi anehnya diterima saja uangnya.. Hahahaha…. Kasian anak mereka kalau tanya gaji ayah/ibunya. Para dewan terhormat kita ternyata tidak pernah mendapat pelajaran korupsi, sehingga alasan konyol seperti itu masih dipakai. Tapi Saya yakin loh, kalau anggota dewan terhormat dari tingkat kabupaten sampai DPR itu anti suap, juga anti korupsi, karena pasti mereka pernah sekolah juga. Tahu sendiri masyarakat kita religius dan berPMP jadi, ya itu tadi.. hehe..

Kalau kata Gus Dur polisi yang tak bisa disuap itu cuma ada 2, jenderal Hoegeng dan polisi tidur, saya yakin Gus Dur cuma menyindir polisi saja. Saya yakin masih banyak polisi yang lurus, karena apa karena di akademi kepolisian tak pernah diajarkan Teknik Suap-Menyuap, yakin juga tak pernah diajarkan praktek Makelaran disana. Orang para polisi juga pernah sekolah dari SD sampai SMA yang notabene pasti dapat pelajaran agama dan PMP/ PPKN. Yakin deh susah banget untuk polisi disuap. Wkwkkwk..

Mari berkhusnudzan untuk bangsa ini, kasian sudah terlalu banyak yang menghujat. Kasian bapak-bapak koruptor kita udah korupsi, ketahuan, dipenjara (kalau gak ada duit) udah gitu dihujat lagi, belum ntar kalau mati. Disiksa masuk neraka, ckckckck… mengerikan… lagian kalau semua koruptor dimasukin penjara, siapa yang mau menjalankan roda pemerintahan??? Penjaranya seluas apa yaa? wkwkwkwk

Tapi kok saya tergelitik untuk kasih ide ya,

Gimana kalau mulai sekarang, kita saring jutaan anak-anak pintar di Indonesia, lalu disekolahkan di sekolah-sekolah khusus yang paling bagus sedunia, lalu diindoktrinasi dengan kultur budaya, sejarah Indonesia yang baik saja, diberi bekal iman dan taqwa, kejujuran, keberanian, tanggungjawab. lalu setelah lulus kuliah mereka semua ditarik ke Indonesia. Lalu kita wipe out satu generasi pemerintahan mulai dari aparat RT sampai Presiden, dari BPD sampai DPR pusat. dan kita mulai lagi pemerintahan baru dan kehidupan Indonesia yang bersih, jujur, adil, makmur sejahtera tapi tetep sederhana.

Jayalah Indonesia!

(sumpah saya nulis ini bukan karena tak kebagian kesempatan untuk korupsi, bukan pula putus asa, tapi saya tiba-tiba terbangun dari tidur karena mimpi buruk gara-gara sering baca dan nonton berita tentang korupsi di Negara kita tercinta)

Saturday, March 6, 2010

bibit, bobot, bebet & bubut (another cheesy talk)

tahu gak kamu?
orang yang kita cinta ternyata punya kemungkinan lebih besar menghancurkan kita atau setidaknya akan membuat kita lemah daripada orang yang cinta ma kita.

jadi sebenarnya praktek perjodohan di masa lampau itu mengandung kebijakan yang mungkin sulit diterima oleh remaja jaman sekarang. bayangin aja di saat seorang cewek jatuh cinta ma cowok, hasratnya pasti menggelora (menggelora guys!! hihi) yang pengennya tiap hari ketemu, tiap jam ditelpon, yang pengennya nempel mulu eh tak tahunya suatu hari sang ibunda ngasih statement "jangan deket-deket lagi ma jono(pacar) kamu udah mama jodohin sama Raden Mas Ngabehi Slamet Mangkuwanitolimo!" whatt!!? aarrgghh..*^%&$*(^$&*#$&^%(&*

nah klo anda para wanita yang mengalami, pasti reaksi yang pertama muncul adalah kaget.. latah(eh jangan deket2.. jangan deket2!), trus abis itu pasti klo gak nangis (andalan) dengan dramatis berlari ke kamar dengan sesenggukan... lalu akhirnya timbul beberapa pilihan sbb:
a. minggat ma pacar
b. nerima aja, kawin ma pilihan ibu
c. bunuh diri
klo saya tebakannya pasti banyak pilihan A&C (kayak DPR kita aja) daripada harus milih B. bagaimanapun juga namanya lg hot-hotnya pacaran, gak akan sudi kita dipisahin barang 1cm pun (halah!) apalagi harus nerima dijodohin dengan orang yang dari namanya saja keliatan bgt jadulnya. hehehe

saya jawabannya A pak bos!
ok, mari kita lihat...
pada masa muda, terkait dengan pilihan untuk minggat, keinginan untuk aktualisasi diri begitu kuat. dorongan untuk berekspresi tak mungkin lebih kecil dari logika. jadi apa yang dirasa baik untuk dirinya mau tak mau akan diperjuangkan mati-matian meski berdampak positif. positif bagi pria karena bisa menikmati madu sebelum waktunya, positif juga bagi wanita yang artinya hamil. hyah! is it what they want? of course not!

hyahh.. hasilnya kok gak ku.ku yaa..
saya jawabannya C pak bos!
ok, mari kita selikidi... hal ini terjadi jika terdapat komponen rendahnya keimanan dan tingginya komponen resistensi dari ortu. daripada dikawinin ma orang laen, lebih baek kawin di neraka (kok isa?) klo dalam Islam, namanya bunuh diri dengan alasan apapun pasti hadiahnya neraka. (trus enaknya dmana??) sebuah pilihan konyol banget namun seringkali kita mendengar kisah ini. kalo apologinya mungkin daripada tubuh dan hati kita dijajah oleh raden mas slamet, lebih baik merdeka selamanya. sebuah kekonyolan yang juga di lakukan oleh romeo meskipun dia tak tahu skenarionya juliet. dan ketika sadar juliet pun melakukan hal yang sama. hasilnya?? neraka! hihi

yawdah deh, kok hasilnya ndak enak smua.. saya pasrah pilih B pak bos!

pilihan ketiga untuk menerima perjodohan dan menikah dengan Raden Mas Ngabehi Slamet Mangkuwanitolimo ato kita sebut saja dengan pihak ketiga sebagai Raden X sebenarnya dari sisi idealisme sulit kita terima. tapi coba kita lihat lagi. sang ortu membuat keputusan untuk menjodohkan anaknya bukan tanpa perhitungan. alasannya pasti ingin melihat anaknya bahagia, tapi hal ini lebih banyak ditentukan oleh faktor logika dan pengalaman. bagi ortu apa yang menurutnya lebih baik bagi anaknya pasti akan dilakukan, meski bertentangan dengan keinginnan anaknya. secara ortu kan lebih pengalaman, mengecap asam manisnya dunia.. jiah! pada pengambilan keputusan perjodohan pasti didasari oleh faktor bibit, bebet dan bobot. nah mari kita perjelas apa toh BBB itu?
menurut analisa ngawur saya, BBB ini adalah
bibit: faktor keturunan
bobot: faktor material (fisik)
bebet: faktor no materi (sifat, pendidikan dll)
kalau dirasa udah memenuhi 3 faktor ini, maka pilihan ortu itu logis banget.
bibit: siapa sih yang gak pengen nikah dengan keturunan bangsawan/ ningrat (bukan bangsawan:bangsane kewan/ ningrat: ningratan a.k.a gelandangan)
bobot: cewek mana pula yang gak pengen punya suami ganteng, tinggi, gede, tajir, yangbisa mencukupi smua kebutuhannnya?? (materi& rohani)
bebet: wanita mana pula yang gak pengen nikah dengan cowok yg gentle, berpendidikan, sopan, ramah, rajin menabung dll udah pasti semua mau.

tapi adalah salah juga klo semua kasus akan berakhir seperti ini. tidak semua cewek memilih tetap ma pacarnya daripada dijodohin ma orang tuanya akan berakhir seperti pilihan A& C. pun tak semua cewek yang mau dijodohin ma reden X akan bernasib bahagia dengan segala kelebihan radennya.
tapi saya berani taruhan, lebih banyak cewek yang bernasib gak enak bila memilih pilihan A/C daripada pilihan B. karena apa?

karena orang yang kita sayang belum tentu ngasih yang kita butuhkan meski ngasih yang kita inginkan!
sebaliknya orang yang sayang ma kita, akan ngasih yang kita butuhkan meski kadang bukan yang kita inginkan. correct me if im wrong dude!

wah, jadi konklusinya harus mau dijodohin dengan raden X dunk?? bela raden muluu, kayaknay penulisnya mau dijodohin neh?? gaaak!! bukaaaan.....
tunnngu dulu..

ada satu yang belum kita selikidi, tapi hal ini yang paling menentukan.
bubut!
weits, orang bengkel ya?? bukaann..
kan ada bibit, bobot dan bebet, nah satu faktor lagi saya sebut aja bubut. (biar mirip dan catchy) hahaha. bubut ini adalah faktor yang berupa religiusitas/ tingkat keimanan.
dalam setiap agama manapun (bagi yg beragama tentu saja) pasti mengajarkan untuk melakukan hal yang benar dan meninggalkan yg salah, menjunjung tinggi nilai moral dan etika. pasti juga mengajarkan sikap bertanggungjawab, mengasihi, menyayangi, dan segudang perilaku luhur lainnya.

jadi ada kemungkinan jawaban D, yaitu si cewek akan mengikuti kata hatinya dan mempertahankan si jono kemudian cewek itu akan jelasin pada ortunya bahwa "kami" sudah saling sayang, lagian si jono itu anaknya baek, gak neko2, gak kalah ma raden X. pun si jono juga berusaha buktiin gimana caranya memenuhi kriteria biibit bobot bebet dan bubut yang biasanya diminta ortunya. nah ketika ditanya ma ortu si cewek, "mau kamu kasih makan apa anakku nanti?? mau kamu kasih apa cucuku nanti" jono pun menjawab " dengan cinta bu'! InsyaAllah, Tuhan tak akan membiarkan puteri ibu hidup menderita dengan saya. karena menikah adalah ibadah. saya yakin dengan cinta kami berdua dan restu bapak ibu serta ridho tuhan maka kami akan berjuang memenuhi kebutuhan kami. kebetulan saya abis dikasih kado ayah saya berupa perusahaan tambang di daerah X, sambil nerusin S2 saya insyaAllah profitnya cukup untuk menghidupi calon keluarga kami dan masyarakat sekitar." hahahaha.. klo kayak gini jawabannya pasti akan langsung diACC deh.. itu berkat faktor bubut, pasti aman!

nah menikah dengan raden slamet pun ada resikonya jg, alih-alih raden anak bangsawan, ganteng, kayaraya, tapi ternyata dia adalah pengikut sejati syech puji skaligus paham liberal barat untuk urusan syhwat doank. yang prinsipnya bunyinya kurang lebih begini: Isi boleh kemana-mana, tapi botol tetep harus kembali. wkwkwk... trus ada lagi.. garasi boleh 1 tapi mobilnya boleh banyak, dari model tua sampai yg paling baru skalipun. nah lo!? yang model gini ternyata juga banyak, dijodohin awalnya baek2, tapi setelah menikah ternyata dia tukang mabuk dan judi, trus malah ada yg kayak bang toyib 2x puasa 2x lebaran gak pulang2. yang parah adalah klo ternyata raden itu adalah dosen mata kuliah "pengantar KDRT" yang isinya mukulin istrinya, sadomasokhis dsb.
kenapa bisa terjadi seperti itu, karena raden punya bibit, bobot, bebet, tanpa bubut!!

nah, klo yg pacarnya boro2 punya perusahaan tambang, perusahaan krupuk aja modal gak ada. yang kuliahnay S2, tamat SMA aja syukur. nah, tipe kyk gini ini justru klo ceweknya gak ngeluh & support terus, karena efek bubut, pasti dia akan berusaha mati2an untuk mensejahterakan keluarganya. Tuhan gak akan ngebiarin usaha keras dan doa tanpa lelah hambanya tanpa hasil. rejeki itu ada yang ngatur, setiap makhluk yang punya nyawa di dunia ini sudah diatur rejekinya ma yg di Atas. yakin deh, jadi tinggal doa n usahanya ajah. trus klo emg udah ditakdirin rejekinya emang seitu2nya ajah, gimana boss??
sekarang tinggal masalah syukur aja, menikmati apa yang ada. saya yakin 100%, gagal bahagia itu lebih menyakitkan daripada gagal kaya. klo emang udah rejekinya segitu klo bersyukur jg, jatohnya bahagia kan?
nah...
sekarang klo misal ada yang punya pacar tapi dijodohin ma orang lain, pastinya tanyain dulu klo calonnya lebih berbubut knapa tidak??
bagi yang jomblo, boro2 dijodohin ortu, dijodohin temen aja kandas, prinsipnya cuma satu, bubut first! pasti akan lebih mudah jalannya..

trus cari pacarnya di tempat religius dunk? jangan!
tipsnya jangan cari pacar di dunia maya, jangan juga cari pacar di masjid, gereja, pura, atau wihara. karena itu tempat ibadah bukan tempat pacaran.

satu lagi, meski terlihat relijius ati2 juga dink, banyak ahli spiritual, ustad, pendeta palagi dukun yang kelakuannya bejat. hahahahha

biarkanlah waktui berproses, someday, somplace, some how ull find it.

pokoknya selamat mencari calon suami yang berbubut!

hidup pria berbubut!

hahahahaha

Friday, December 25, 2009

salah tuhan?

setiap makhluk didesain dalam bentuk terbaiknya, dan seperti biasa sebagai makhluk yang paling sibuk mengeluh, kita selalu menginginkan bentuk terbaik, kita tak pernah puas dengan kondisi yang ada. entah fisik, entah situasi ekonomi, entah kemampuan (skill), bahkan sampai kadang lupa akan hakekat kita sebagai manusia.
ada yang terobsesi untuk langsing, rambut lurus, body yummy, bulu mata lentik, hidung mancung, dada montok (sekarang gak cuma cewek aja, liyad aja para cowok body builder yang dadanya ngalah2in julia krepes) (kadang konyol juga ngliyad ada yang bisa gerak2in dadanya.. hahaha) dan semua parameter keren yang diciptakan manusia. thats all just junk culture, meski gak muna saya jg adalah salah satu korban parameter tersebut yang sempat meyakini bahwa mahluk yang terindah adalah yang fisiknya sempurna, padahal di kemudian hari saya menyesal karena semua parameter duniawi tersebut hanya temporer.

ngerasa gak sih klo kita daridulu gak pesen untuk dilahirkan dan jadi gede dalam kondisi seperti sekarang ini. yang klo saya alami adalah alhamdulillah kelewat langsing, dengan rambut berbadai (klo gelombang mah kecil), idung lobangnya bisa dimasukin jempol, bibir yang sexy abiss (untuk menyamarkan kata memble), udel bodong dsb.

juga untuk urusan materi, sapa sih yang gak pengen dilahirin kayak paris hilton (anggapan sebagian wanita yg blon tau kelakuannya) yang terlahir diwarisin harta bejibun, dengan fisik yang nyaris perfect. ato kayak pangeran dari arab yang belon lahir aja udah punya istana, ngedip mata keluar dinar, ngeludah keluar riyal, bersin keluar ingus (ini mah tetep!) dari kecil tiba2 gedenya ganteng badannya tinggi kekar dan yang pastinya "itunya" versi arab pula! ahahahha
yang dalam hidupnya gak ada kamus idupnya gak ada, bilang mau mobil, pabriknya kebeli, mau rumah, pulaupun kebeli, mau wanita (klo yg ini pasti kebeli jutaan wanita yang rela entah gimana caranya) tapi apa artinya toh semua itu? sementara bagi kita yang makannya pake sayap ayam goreng yang kelewat kecil aja udah bilangnya beruntung. yaah daripada sayap pesawat goreng mau gedenya se gaban2 (gaban ki gadis bantul po opo toh sakjane??) tapi gak bisa dimakan?

bagaimana dengan yang terlahir aja udah jenius? yang laen pada lulus smp dia udah sarjana, yang laen sma dia udah master. yang laen sarjana (dia mati saking pinternya heheh.. rasain lo!) ato yang diwarisi tangan sehebat david copperfield, yngwie malmsteen, maradona, stepen chow yang punya jurus buddhist palm (makin ngaco neh) yah pokoknya semua yang terlahir dengan bakat luarbiasa, meski pada saat lahirnya sama2 nangis kayak kita (ya iyyalah, gak mungkin langsung ketawa!) tapi gedenya punya skill yang bikin geleng2 kepala (bukan tripping tapi: jadul bgt yak!?) then whats the point?

tenang guys meskipun dengan muka pas pasan dan dompet pas pasan apalagi dengan kemampuan yang pas pasan pula, kita punya kemungkinan punya dan bisa menjadi lebih kaya/mulia/keren/berharga dll dibanding dengan semua orang yang punya kemampuan diatas.

kok bisa boss? dapet rumus darimana tuh??

jadi begini, dari awal saya bilang kalo ternyata hampir semua parameter yang kita pakai adalah parameter duniawi yang diciptakan/dibentuk oleh manusia seperti kita juga; yang kemungkinan sama bodongnya dan sama memblenya dengan kita juga!
jadi kitapun sebenernya bisa saja membuat parameter yang lebih baik menurut keyakinan juga. klo kata orang pinter; hukum itu adalah kesepakatan mayoritas, jadi klo di komunitas ato di daerah kita lebih banyak orang peseknya berarti yg idungnya mancung ntar kita bilangin aja jelek, klo yang badannya six pack ato sexy kita bilang aja njijiki, ato yang punya duit banyak kita bilangin aja kafir miskin, dan klo ada yang punya kelebihan bakat kita kucilin aja dibilang alien, ato apalah. (gile, pengen juga neh idup dsini) ahahahhaha... bukan ini intinya boss!

kita terlahir diciptakan dalam bentuk yang paling sesuai dan sempurna untuk kita, jadi sejauh mana kita bisa menghargai bentuk tubuh kita, mensyukuri apa yang diberikan oleh pembuat kita disitulah kita akan semakin menyadari betapa beruntungnya kita. yang penting adalah apa yang tersimpan dalam dada kita (
kayaknya penulisnya porno:is:me neh nyinggung dada ajah) eits bukan yang itu. yang saya maksud adalah yang terpenting adalah hati kita. (ini mah semua orang tau kalee gak perlu ditulis disini boss!?) emang benar semua orang tahu kayaknya tapi dalam kenyataannya berapa persen dari kita mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Tuhan melalui fisiknya seperti kita? tetep aja jatohnya jerawatan dikit ke salonlah, muka direbondinglah, eh facial dink ato, yang sedot lemak, sedot darah kotor, sedot kutil ato apalah semua ituh.
berapa banyak yang menyadari bahwa fisikly emang cuma sementara dan bersyukur itu adalah nilai lebih kita, tapi tetep aja smua yang disebutin diatas jadi hal yang menakutkan bagi sebagian besar kita, karena apa? karena parameternya dunia! gak boleh gendut, gak boleh ketombean, gak boleh jerawatan dll, yang cantik itu bla bla bla, yang keren itu bla bla bla, yang ideal itu bla bla bla... semua karena kita terpatok pada pandangan manusia belaka! parameter duniawi!

eits tunggu dulu boss, emang klo udah mensyukuri kehidupan, fisik kita jadi berubah ato nasib kita berubah gitu? gimana kabar dengan tajir or skill(bakat) cuy??

yaa kalo cuma bilang "ya Tuhan aku bersyukur kepadaMU" gak bakal ngubah apa2 bos,

bersyukur itu ikhlas, bersyukur itu mampu memahami keadaan, bersyukur itu bekerja, bersyukur itu berbuat kebajikan, bersyukur itu gak ngeluh dll.

yaa kalo kita diciptakan "begini2 aja" kita harus berjuang untuk mengubah parameter dunia menjadi parameter akhirat. kalaupun fisiknya kurang tapi bersyukur dengan bersifat yang baik, memberi manfaat pada lingkungan, rajin beribadah, bijaksana, jujur, amanah, tabligh, fatonah, suka menabung dll maka insyaAllah derajat kita akan ditinggikan baik di dunia, apalagi di akhirat bos!
kalo yang dilahirkan keadaan ekonominya kurang, maka dari situ kita harus bersyukur bahwa kita diberi kesempatan untuk meluangkan waktu lebih untuk beribadah dan bekerja. kita diberi kemampuan untuk mengelola masalah lebih berat dibanding orang laen yang lebih berada (bandingkan aja, klo orang kaya gusar karena mobilnya kegores ato blackberrynya kerendem jus apel, kita diberi soal yang lebih rumit,; gimana caranya keadaan gak punya uang, laper, kaki pincang sebelah, perut mules, anak butuh biaya sekolah, istri mau melahirkan anak keempat, tabungan habis?? gimana rasanya klo ini ditimpakan pada anak raja minyak seminggu ajah.)

yang pasti sempurnakan niat, sempurnakan ikhtiar, pasti bakal di kasih jalan ma yg ngecat cabe.
karena setiap makhluk hidup yang ada di dunia ini rezekinya udah ada yang ngatur. masak kita yang mahluk paling sempurna, punya otak hati dan kehendak gak dipikirin ma Allah?

tapi jangan dibilang kalo udah berusaha tapi gak berhasil2 malah jadinya nuduh Tuhan gak adil. bisa jadi karena hal itu ditunda dan bakal diganti ma yg lebih baek? who knows.

what we want sometimes is not what we need..

masih berani bilang kekurangan kita itu salah Tuhan???

Thursday, December 3, 2009

ingin menulis lagi

sudah lama gak nulis. entah karena seringnya berjibaku dengan dunia komersil, hati rasanya tumpul. susah aja buat nulis. klopu dipaksain malah wagu. hufhh.
kemaren2 sempet ngobrol ma temen, untuk bikin kompilasi puisi tapi kayaknya hanya akan terus jadi wacana klo akunya gak jalan. selalu saja seperti itu.
apa emang aku terlalu banyak berwacana?
entahlah, yang pasti aku ingin menulis lagi. menulis apapun itu. karena kalo dipikir, berapa banyak gagasan, ide, keinginan, ungkapan hati akan hilang dan terlupakan klo cuma dipikiiir aja mulu.
dan karena emang sudah dari sononya otakku gak bisa berhenti mikirin ini itu, yg aneh, jorok, relijius, yg humanis selalu saja tak ada jejaknya. ya karena tak ditulis itu.
pokoknya akau mau nulis lagi. mulai hari ini.

tuhan bimbinglah aku untuk menuliskan namaMu..